Followers

Senin, 18 Oktober 2010

LAUNCHING DAN BEDAH BUKU "PEREMPUAN BAWANG DAN LELAKI KAYU



Launcing buku yang sekaligus bedah buku yang berjudul "Perempuan Bawang dan Lelaki Kayu" ini diselenggarakan di Gedung GL Universitas Negeri Padang pada tanggal 17 Oktober kemaren. Apresiasinya cukup memuaskan lho, ada sektiar 150 peserta yang menghadiri acara ini. acara ini terselenggara berkat kolaborasi antara FLP Sumbar dan FBSS nya UNP.
Buku ini berjumlah 177 halaman dan diterbitkan oleh Forum Lingkar Pena Publishing House.
Pertama kali mendengar judulnya, buku yang ternyata adalah kumpulan cerpen dari si Penulis yaitu Ragdi F Daye atau yang biasa disapa Bang Ade ini jauh dari bayanganku.
tadinya ku pikir bahwa ini adalah sebuah Novel yang mencitrakan sosok seorang perempuan yang identik dengan bawang. Bawang yang biasa yang bisa membuat orang hangat, menitikkan airmata dan menyengat. Juga identik dengan keseharian seorang perempuan yang berkutat dengan asap dapur, masak-memasak dan ibu rumah tangga. Sisi perempuan itulah yang akan disentuh oleh Bang Ade, namun ternyata bukan. Serta lelaki kayu yang kutangkap sebagai pencitraan sosok lelaki yang kuat dan kokoh seperti kayu. Bisa menjadi tiang penegak bagi keluarganya dan selalu dapat diandalkan. Semua lelaki selalu bisa menjadi teknisi atau tukang. Sisi lelaki itulah yang ingin disentuh oleh bang Ade, namun ternata juga bukan. ada lima belas cerpen dalam buku ini dengan judul antara lain yang dua diatas, ada 'Jarak', 'di Solok aku ingin mati perlahan', 'Rumah lumut', 'lekuk teluk', 'jibril sedang asyik berzapin' dsb.
baca deh bukunya, karena Antologi ini mengangkat tema budaya Minang kabau, tanah kelahiran bang Ade sendiri. Selamat ya Bang... doain aku nyusul bikin buku juga...

Untukmu Cendrawasih

Pernah ada cerita yang terhampar
dari bumi Rafflesia hingga ke bumi Cendrawasih...
cerita yang bahkan tidak tahu kapan bermula..
dan entah dimana titik berakhirnya...

diantara ribuan pulau
diantara luasnya samudera yang membentang...
pernah ada rindu yang menjelma
tidak pernah tahu kemana muaranya...
tidak pernah tahu kemana rimbanya..
tidak pernah tahu kemana labuhnya...

aku bertanya kepada angin yang menyapa Cendrawasih...
akankah ia terbang sampai ke tempat ku berdiri?
baik dalam mimpi ataupun hanya terlintas dalam angan...

buat apa rindu jika terlarang...
buat apa harapan jika semua hanya angan-angan...
buat apa cerita jika semua hanya kenangan..,

wahai Cendrawasihku ...
akankah kau kembali pulang...?
kembali menyapa di bumi Rafflesiamu...
menatap kembali lembayung senja Tapak Paderi-mu...

wahai Cendrawasihku...
ketahuilah bahwa aku mulai lelah...
aku berharap dapat melebur
bersama deburan ombak pantai panjang
sehingga bisa membawaku hanyut hingga ke pantai raja ampat..

apakah senja di pantai papuamu seindah di pantai panjangku...?

wahai cendrawasihku...
terbanglah, jemput aku...
jangan biarkan aku terombang-ambing di tengah lautan
yang luas dan tak bertepi...

aku berharap angin membawa kepakan sayapmu pulang padaku...
namun ku ragu bila kala itu tiba...
masihkah kan kau temui aku disini...?
janganlah terlambat untuk pulang

aku takut bila kala itu benar-benar datang...
aku telah menjawab panggilan dari ibu pertiwi...
dan tak kan pernah bisa kembali lagi
untuk bertemu denganmu duhai cendrawasihku...